Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) melepas ekspor 250.000 unit obat pereda nyeri merek Tylenol produksi PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) ke Korea Selatan dengan nilai mencapai Rp2,4 miliar, Jumat (13/2).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, menyampaikan bahwa ekspor produk farmasi ke pasar global, termasuk Korea Selatan, menjadi bukti semakin kuatnya daya saing industri dalam negeri.
Menurutnya, keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan kemampuan manufaktur Indonesia dalam memenuhi standar rantai pasok global. Ia juga mendorong perusahaan untuk terus meningkatkan kapasitas produksi di dalam negeri, sekaligus membuka ruang transfer pengetahuan dan teknologi guna memperkuat daya saing industri farmasi nasional.
Pemerintah, lanjut Puntodewi, terus mempererat kolaborasi dengan investor dan pelaku usaha sebagai bagian dari strategi hilirisasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri serta memperbesar peran Indonesia dalam jaringan pasok internasional.
Pelepasan ekspor kali ini juga menjadi momentum penting setelah perusahaan memperoleh fasilitas kawasan berikat dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada 16 Desember 2025. Fasilitas tersebut memberikan kemudahan fiskal serta mendukung kelancaran proses produksi dan ekspor, sehingga meningkatkan efisiensi biaya dan memperluas akses pasar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja ekspor farmasi Indonesia dalam lima tahun terakhir (2021–2025) tumbuh positif sebesar 7,63 persen. Pada 2025, Korea Selatan tercatat sebagai negara tujuan ekspor farmasi terbesar ketiga dengan nilai 75,46 juta dolar AS atau berkontribusi 10,24 persen terhadap total ekspor farmasi nasional.
Secara global, permintaan produk farmasi sepanjang 2020–2024 meningkat 11,02 persen. Pendapatan industri farmasi dunia pada 2024 mencapai 1,16 triliun dolar AS dan diproyeksikan naik menjadi 1,53 triliun dolar AS pada 2030 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sebesar 4,74 persen.
Tim Redaksi





